Semburat Kebaikan di Wajah Murung Klose

Posted on

Semburat Kebaikan di Wajah Murung Klose – 8 Juli 2014 adalah hari yang pasti diingat oleh pecinta sepak bola sejati. Ini adalah hari di mana impian Brasil untuk kembali melenggang ke final Piala Dunia di Maracana hancur dengan cara yang paling menyakitkan ketika. Jerman membuat tuan rumah mengalami salah satu kekalahan yang paling luar biasa dalam sejarah 84 tahun kompetisi ini.

Semburat Kebaikan di Wajah Murung Klose

Semburat Kebaikan di Wajah Murung Klose

Air mata mengalir seperti air di Estadio Mineirao di Belo Horizonte karena bahkan sebelum setengah jam berlalu. Brasil kalah 5-0, dan dengan skor akhir 7-1, ini menyamai kekalahan terburuk mereka, 6-0 ke Uruguay pada tahun 1920. Pada laga ini Brazil terlihat seperti tim yang baru saja belajar bermain bola di hadapan. Timnas Jerman. Dua gol dari Toni Kroos dan Andre Schurrle, ditambah masing-masing Thomas Muller. Sami Khedira, dan tentunya sang pemecah rekor gol Piala Dunia ke-16 untuk Miroslav Klose.

Membuat para penikmat sepak bola mengucek mata berkali-kali untuk memastikan kebenaran yang tertera di papan skor kala itu. Kekalahan telak ini membuat para punggawa Timnas Jerman tidak sampai hati untuk merayakan kepastiannya melangkah ke partai final dengan berlebihan. Mayoritas dari mereka lebih memilih untuk berekonsiliasi dengan pemain Brazil yang luluh lantak hatinya kala itu.

Pun juga Miroslav Klose yang seakan melupakan keberhasilannya untuk memecahkan rekor sebagai. Pencetak gol terbanyak di gelaran sepak bola terbesar sejagat ini. Melihat Klose malam itu, ingatan saya berputar kembali ke masa di mana saya menjadi. Saksi sejarah sang pemecah rekor dalam menunjukkan tajinya di turnamen ini, Piala Dunia 2002. Pertengahan tahun 2002, kala itu saya masih SMP dan tengah menikmati. Salah satu momen istimewa dalam gelaran Piala Dunia edisi ke-17 ini.

Bagaimana tidak istimewa, turnamen yang berlangsung pada tanggal 31 Mei hingga 30 Juni 2002 ini merupakan. Piala Dunia pertama yang diselengarakan di dua negara, yaitu Korea Selatan dan Jepang. Dan yang membuat gelaran ini jauh lebih istimewa, bagi saya khususnya, adalah karena dilaksanakan di. Area Asia, maka para penikmat sepak bola di Indonesia dapat menyaksikan pertandingan-pertandingan. Yang menyuguhkan begitu banyak drama sepak bola ini di siang hari.

Sensasinya sungguh berbeda dibanding saat kita harus menahan rasa kantuk

Di malam hingga dini hari hanya untuk menyaksikan tim nasional (tentunya di luar Tim Nasional Indonesia) kesayangan kita beraksi. Saya masih ingat betul bagaimana saya dan teman-teman saya selalu membawa kertas bertuliskan jadwal pertandingan. Piala Dunia 2002 yang didapat dari salah satu tabloid legendaris Indonesia sebagai “pegangan” wajib di dalam tas kami.

Selepas sekolah, kami pun berbondong-bondong untuk pergi ke toko elektronik terdekat untuk menyaksikan. Pertandingan yang disiarkan langsung di layar televisi yang menjadi bahan jualan toko tersebut. Menonton sepak bola bersama kolega dan masih mengenakan seragam yang basah. Karena keringat sehabis berlarian demi dapat menonton tepat waktu di pinggir jalan sembari menyedot es teh yang kesegarannya mengalahkan minuman apapun saat itu, rasanya tak tertandingi dan belum terulang sampai sekarang.

Salah satu pertandingan yang paling saya ingat dari Piala Dunia seri ini (selain pertandingan Korea Selatan melawan Italia) adalah pertandingan yang yang mempertemukan Timnas Jerman dengan Arab Saudi. Baru pertama kali dalam sejarah saya menonton pertandingan Piala Dunia di mana ada satu tim yang sanggup memberondong gawang tim lawannya dengan delapan gol tanpa balas. Ya, benar, delapan.

Ada satu pemain yang menarik perhatian saya saat itu, Miroslav Klose. Pemin bernomor punggung 11 tersebut memiliki nama yang masih sangat asing di telinga saya kala itu. Sungguh suatu perjudian besar yang dilakukan oleh pelatih Jerman, Rudi Voller, dalam memilih sang juru gedor utama bagi tim sekelas Jerman. Hebatnya, sang pemuda 24 tahun berwajah murung khas bangsa Slavik ini mampu menjawab kepercayaan dari sang pelatih tidak hanya dengan mencetak satu atau dua gol saja.

Sungguh cara yang sangat elegan dalam membuka keran golnya di Piala Dunia. Uniknya lagi, ketiga gol Klose tersebut dicetak dengan sundulan kepalanya. Mantan pemain Lazio dan Werder Bremen ini lima kali mencatatkan namanya di papan skor. Suatu catatan bagus untuk seorang debutan.

Hattrick sebelum digantikan Oliver Neuville pada menit ke-76

Sekalipun masih kalah mentereng dengan Ronaldo-nya Brasil (8 gol) yang mengalahkan mereka di final, Klose telah menandai kehadirannya. Laga melawan Arab Saudi merupakan satu-satunya laga di mana Klose menciptakan hattrick di Piala Dunia. Klose tercatat tiga kali melakukan brace di Piala Dunia saat melawan Kosta Rika dan Ekuador di Piala Dunia 2006 dan ke gawang Argentina pada Piala Dunia 2010. Catatan yang luar biasa.

Namun, meskipun mewarisi darah atlet dari ibunya, Barbara, yang merupakan anggota Timnas Bola Tangan Polandia, dan ayahnya, Josef Klose, yang pernah tercacat sebagai pesebakbola profesional di AJ Auxerre, Klose terhitung terlambat dalam memulai karirnya sebagai pemain sepak bola.

Sebelum mengenal sepak bola, Klose menekuni bidang pertukangan sampai usianya 20 tahun. Sungguh akan menjadi kerugian besar bagi Jerman jika saja pemegang caps terbanyak nomor dua bagi Jerman dengan 136 penampilan ini tetap menekuni pekerjaan magangnya sebagai tukang kayu. Entah apa akhirnya yang membuat Klose memulai karirnya di tahun 1998 dengan bergabung dengan salah satu Tim Jerman, FC Homburg, pada saat usianya 20 tahun.

Meskipun berdarah Polandia dan tinggal di Perancis sampai usianya delapan tahun sebelum pindah ke Jerman, Klose memberi sumbangsih yang luar biasa bagi Timnas Jerman dengan 16 gol di Piala Dunia yang membuatnya tercatat sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia. Bukti kesetiaannya bagi Jerman adalah bagaimana dia dengan setia membantu Jerman pada empat seri Piala Dunia (2002, 2006, 2010, dan 2014) sebagai juru gedor Tim Panser. Selain 16 golnya di Piala Dunia, sang striker tercatat sebagai satu dari tiga pemain yang dapat mencetak 5 gol atau lebih di dua Piala Dunia secara berurutan, mencetak setidaknya 4 gol di 3 Piala Dunia, mencetak gol sundulan terbanyak di Piala Dunia dengan 5 gol, dan menjadi satu-satunya pemain yang tampil dalam 4 laga semi final Piala Dunia. Legenda sejati.

Perjalanan karir Klose di Timnas Jerman pun dipenuhi dengan berbagai pencapaian

Dan kalau Anda kesulian mencari arti dari istilah poacher di dalam kamus, lihatlah bagaimana Klose bermain. Dia adalah striker sejati yang menjadi predator mematikan di kotak 12 meter lawan dan jarang mencetak gol dari luar kotak pinalti. Bahkan ke-16 golnya di Piala Dunia dicetak di dalam kotak pinalti lawannya. Di balik kegarangannya di depan gawang lawan, yang jauh lebih menarik untuk ditelisik dari sosok Klose adalah ketulusan hatinya.

Untuk jiwa-jiwa yang seringkali menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, belajarlah dari Klose, yang seringkali menunjukkan apa itu arti fairplay dan menegur kita untuk selalu memenangkan sesuatu sebagai kesatria sejati. Yang paling ikonik sepanjang perjalanan karir Klose adalah di tahun 2005 ketika bermain untuk Werder Bremen. Saat itu Klose menolak untuk mengambil penalti karena menganggap wasit salah dalam memberi keputusan.

Di tahun 2012 saat Klose bermain untuk Lazio, kejadian serupa pun terjadi. Saat itu Lazio mendapatkan hadiah tendangan pojok, dan di tengah kemelut di depan gawang Napoli, bola mengenai tangan Klose dan bergulir ke gawang Napoli. Wasit pun mengesahkan gol tersebut, namun Klose meminta wait untuk menganulir gol tersebut dan mengahui kalau dia handsball. Akhirnya wasit tidak mengeluarkan kartu kuning untuk Klose tetapi berjabat tangan atas kejujurannya sementara para pemain Napoli menepuk punggungnya.

Jangan lupa aksi diving yang kerap kali ditunjukkan pemain macam Neymar atau Cristiano Ronaldo, untuk membantu kedigdayaan timnya masing-masing. Yang paling sulit terlupakan tentunya bagaimana Luiz Suarez dengan “gagah berani” menahan laju bola ke gawang yang kosong dengan tangannya pada pertandingan melawan Ghana.

Sepak bola adalah permainan yang indah, namun seringkali diliputi oleh uang, keserakahan, korupsi, dan kekayaan. Klose adalah anomali dari semua itu. Klose adalah atlet sejati yang menjunjung tinggi nilai sportivitas layaknya bagaimana seorang atlet seharusnya bertanding.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *