Jordan Henderson Perjuangan dan Segalanya Untuk Liverpool

Posted on

Jordan Henderson Perjuangan dan Segalanya Untuk Liverpool – Kewaspadaan terhadap Pandemi Covid-19 nampaknya agak terpinggirkan beberapa pekan kedepan menyusul euforia kebahagiaan seluruh masyarakat Liverpool dan penggemarnya di seluruh penjuru dunia setelah mereka secara resmi memenangkan trofi Liga Primer Inggris musim kompetisi 2019/2020. Mereka dipastikan mengunci gelar Juara liga Inggris ketika.

Jordan Henderson Perjuangan dan Segalanya Untuk Liverpool

Jordan Henderson Perjuangan dan Segalanya Untuk Liverpool

Kekalahan menyakitkan yang membuat Manchester City tetap mengoleksi 63 poin, dan tertinggal 23 angka dari Liverpool dengan raihan 86 poin dari total 31 laga. Meskipun The Citizens masih menyimpan 7 pertandingan sisa, mereka tak mungkin lagi menyusul Liverpool di singgasana klasemen.

Ingar-bingar, suka cita berpadu menjadi satu, lautan merah menyala di hati Liverpudlian saat ini. 30 Tahun Penantian panjang akhirnya terbayar lunas. Beragam ungkapan bak menjadi penghias riuh juara, terlebih bagi sang juru taktik Jurgen Kloop.

Tangan dingin Kloop yang mampu merubah kesan Liverpool sebagai tim biasa saja sejak tiga musim lalu hingga sekarang. Menjema menjadi tim superior bukan hanya di ranah Britania, namun sampai ke Kompetisi bergengsi. Eropa (Uefa Champions League). Dibuktikan saat mereka berhasil masuk partai final dalam dua kesempatan, yakni pada medio 2018 dan 2019. meskipun pada tahun 2018 tersebut habis dicukur Real Madrid kala itu. Namun di kesempatan berikutnya mampu keluar sebagai juara setelah mengalahkan Tottenham Hotspur dalam final bertajuk “all england final”.

Posisi Bermain di Era kepelatihan Jurgen Klopp

Tak hanya itu, pemain seperti Mo Salah, Firmino, Allison Becker menjadi sorotan penting dalam perannya membawa Si Merah Merseyside menjadi kampiun.

Banyak pihak mengapresiasi perjuangan Liverpool dalam menggapai titel juara Liga Inggris kali ini. Mulai dari konsistensi tim hingga akhir gelaran yang dibuktikan dengan statistik mentereng, dengan total kalah hanya tiga kali dalam 31 pertandingan, serta polesan Klopp yang mengorbitkan pemain biasa saja menjadi tokoh sentral dalam perjalanan Liverpool menggapai trofi.

Barangkali publik mempertanyakan daya magis apa yang dimiliki Juru Taktik asal Jerman tersebut hingga pada akhirnya mewujudkan mimpi panjang ini. Mulai dari gaya permainan hingga tempaan khusus kepada pemain menjadi daya tarik tersendiri untuk diungkap.

Sejatinya menurut Jurgen kunci utama mereka dalam merengkuh hasil maksimal di setiap pertandingan ialah konsistensi dan semangat juang. Tapi, melihat sosok penting namun kurang memiliki nama tenar dibawah arahan Klopp nampaknya menarik untuk disimak.

Dia adalah sang kapten Jordan Henderson. Tidak banyak kalangan memberikan perhatian spesial kepadanya, Bahkan banyak juga dari mereka menggambarkan bahwa ia hanya sebatas pelengkap dalam permainan dan pemain “biasa saja” tanpa atribut menonjol.

Menilik cerita pada awal karirnya di usia 7 tahun, ia kerap bermain di posisi sayap maupun striker, hingga kemudian beralih menjadi seorang gelandang hingga sekarang. Jordan telah menghabiskan 10 tahun karirnya bersama tim muda Sunderland. Jordan pernah membawa Sunderland U-18 meraih juara liga secara dua musim berturut-berturut.

Setelah pindah ke Anfield, debut pertamanya dimulai pada Liga Primer musim 2011/2012, kala itu bertandang ke mantan tim nya dimana ia menjadi bahan cemoohoan suporter tuan rumah. Hasil imbang 1-1 menjadi hasil akhir. Cukup sepadan dengan awal perjuangan Jordan.

Kepemimpinan dan Komunikasi Baik Saat Bermain

Gol pertamanya datang ketika berhadapan dengan Bolton Wanderers di Anfield. Maklum, dalam perjalanan karirinya di Liverpool tidak semudah membalikan telapak tangan, serta tuntutan keluarga untuk masuk skuat utama Liverpool kala itu yang sangat besar dan tidak banyak diketahui banyak orang. Benar kata pepatah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

Berkat kerja keras pantang menyerah Jordan mulai bisa bermain reguler bersama Liverpool mulai musim 2013/2014 hingga sekarang, meskipun dalam perjalanannya tetap menemui halang rintag, salah satunya cidera metatarsal pada tahun 2019.

Di dapuk menjadi Kapten sepeninggal Steven Gerrard yang gantung sepatu sempat membuat keraguan seluruh insan Liverpoolisme. Dietmar Hamann, gelandang Liverpool periode 1999 hingga 2006 mengatakan. Saya pikir (Henderson) adalah pemain yang baik tetapi apakah dia seorang kapten Liverpool, saya akan menyerahkannya kepada orang lain.

Lalu Stan Collymore, mantan penyerang The Reds periode 1995 — 1997, mempertanyakan jiwa kepemimpinan Henderson apakah layak menjadi pemimpin. Begitu juga dengan sebagian besar penggemar Liverpool mempunyai pandangan sejalan. Melihat keraguan dan kecaman publik terhadapnya, lantas tidak membuat dirinya berkecil hati. Tahap demi tahap ia lewati dengan penuh usaha dan perjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *